ReadTheQuran

Kuhadapkan wajahku dengan lurus kepada agama-Mu, ya Allah ya Fattah, Tuhanku Yang Maha Membuka Hati, yakni agama Islam yang mengagungkan-Mu

Mengapa hanya menyembah Allah swt?
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” Begitulah penjelasan dari Tuhanku, Ya Allah ya Mutakabbir, Tuhan Pemilik Segala Keagungan, dalam Kitab Al Quran surat Ar Ruum ayat 30.
“Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus,” demikian tegas Tuhanku Yang Selalu Maha Dibutuhkan, Ya Allah ya Shamad, tertera dalam surat Yasin ayat 61 Al Quran.
Manusia diciptakan Allah bukan untuk melakukan kesia-siaan. Ya Allah ya Qudduus, Allah Sungguh Maha Suci. Tiada ciptaan-Nya yang sia-sia dan tidak memiliki manfaat. Manusia diciptakan-Nya dari bumi sekaligus hendak dijadikan-Nya pemakmur bumi. Pemakmur bumi yang diberkahi keberuntungan-Nya adalah pemakmur bumi yang hanya menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa, yakni Allah yang tanpa sekutu. Ya Allah ya ‘Afuww, Allah Yang Maha Pemaaf. Ya Allah ya Tawwaab, Allah Yang Maha Penerima Tobat. Bila kita salah dan khilaf dalam bekerja memakmurkan bumi, lalu berdoa kepada-Nya sebagai seorang hamba yang hina, memohon ampunan-Nya, maka Ya Allah ya Ghafuur, Tuhanku Yang Maha Mengampuni, insya Allah mengabulkan doa hamba-Nya. Sesuai janji Allah, dalam Al Quran surat Hud ayat 61: “Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” Tidakkah kamu tahu,” begitu papar Nabiku dalam Kitab Al Quran surat An Nur ayat 41, “bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi, dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” “Apakah kamu tiada mengetahui,” begitu papar Nabiku dalam Al Quran surat Al Hajj ayat 18, “bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan dalam surat Al Isra ayat 44 Al Quran: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.” Kini makin kupahami fitrah kemakhlukanku. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yang satu yakni agama tauhid: penyembahan kepada Tuhanku Yang Tunggal tanpa satu pun sekutu, Ya Allah ya Waahid. Dengan sembahyang hamba-Mu ini, ya Allah ya Mubdi’, kusembah Yang Maha Memulai, yaitu Engkau. Kubuktikan penyerahan diriku pada-Mu, Ya Allah ya Mu’iid, wahai Dzat Yang Maha Mengembalikan. Dengan sembahyang hamba-Mu ini, ya Allah ya Muhyii, kusembah Yang Maha Menghidupkan, yaitu Engkau. Kubuktikan ketundukkanku pada-Mu, Ya Allah ya Mumiit, wahai Dzat Yang Maha Mematikan.” Dengan sembahyang hamba-Mu ini, ya Allah ya Awwal, kusembah Yang Maha Permulaan, yaitu Engkau. Kubuktikan kepatuhanku pada-Mu, Ya Allah ya Aakhir, wahai Dzat Yang Maha Akhir. 

Mengapa kita mesti mati dalam Islam? 
Aku pun berharap nyawaku dicabut dalam keadaan beragama Islam. Dalam penyerahan diriku yang total kepada-Mu. Dalam ketundukkanku yang total kepada-Mu. Dalam kepatuhanku yang total kepada-Mu. Aku pun ingin tetap bersaksi: Tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah— hingga tubuhku merenggang, kaku, dan mati. Tubuhku kembali ke tanah sebagaimana Engkau ciptakan aku pada awalnya. Roh ku kembali ke haribaan-Mu, ya Tuhanku. “(Ya Tuhan), Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh,” begitulah doaku, seperti yang kutiru dari Kitab yang luhur, kitab yang agung dan kitab yang mulia: Kitab Suci Al Quran, surat Yusuf ayat 101 dan surat Al Anam ayat 162: “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” 
Mati dalam keadaan tidak beragama Islam adalah suatu kerugian. Simaklah firman-Nya dalam Al Quran surat Ali Iman ayat 85: Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. 
Bila saat ini jiwa kita belum lagi Islam, dan belum menjalankan ajaran Islam sebagaimana mestinya, mudah-mudahan nyawa kita tidak dicabut di saat ini. Semoga kita diberi kesempatan untuk menjadi Islam sebagaimana Nabi Muhammad saw. mengajarkan keteladanan jiwa seorang muslim: pemeluk agama Islam yang menegakkan keagungan agama-Nya Yang Maha Agung. 
Tetapi, mengapa kita tidak menjadi Islam sejak sekarang ini? Mengapa mesti menunggu? Padahal, sudah berjiwa Islam atau belum berjiwa Islam, diri kita tidak bisa lari dari kematian. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Jum’ah ayat 8 Al Quran: Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. 

Mengapa yang mengakui Isa itu seorang nabi akan masuk ke surga? 
Aku ingin masuk surga setelah kematianku. Aku ingin bisa diterima minimal di salah satu pintu surga dari delapan pintu yang disediakan Allah bagi hamba-Nya yang diridai-Nya. Simaklah hadis di Kitab Shahih Muslim (26): Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang mengucapkan pengakuan : Aku mengaku tidak ada Tuhan selain Allah satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, dan bahwa Isa adalah hamba Allah, anak dari wanita hamba-Nya, dan Kalimah-Nya yang ditujukan-Nya kepada Maryam, dan ruh daripada-Nya, dan bahwa surga dan neraka itu sebenarnya ada-- Allah akan memasukkannya ke surga melalui salah satu pintu dari delapan pintu yang dikehendaki-Nya.” 
Lebih jelas lagi, simak pula wahyu Allah swt. kepada Nabiku, Nabi Muhammad saw. dalam surat An Nisa ayat 171 Al Quran: Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara. (Dana Anwari)

No comments:

SUCCESS LINK

Islam - Selections from Encyclopaedia Britannica