ReadTheQuran

Mengapa shalat berdiri dan tidak berbaring?

Bolehkah Duduk atau berbaring bila tak mampu Shalat berdiri? Melalui Nabi-Nya, Allah Yang Maha Kasih Sayang, Ya Allah ya Rahmaan ya Rahiim, mengizinkan kita shalat sambil duduk atau berbaring. Sungguh Maha Murah Kasih Tuhanku. Dia Yang Kehendaknya Tak Bisa Diingkari tetapi juga Maha Bijaksana. Ya Allah ya Rahmaan, Ya Allah ya Jabbaar, Ya Allah ya Hakiim. Sebagaimana hadis riwayat Bukhari dan Muslim (417): Anas bin Malik ra. berkata: Rasulullah saw. masuk masjid dan didapati ada seutas tali direntangkan di antara dua tiang. Beliau bertanya: “Apa ini?” Para sahabat menjawab: “Untuk Zainab, ia hendak shalat, kalau ia merasa malas atau lemas di tengah shalat maka ia berpegangan pada tali tersebut.” Rasulullah saw. bersabda: “Lepaskan tali itu. Hendaklah setiap orang dari kalian shalat dengan kekuatannya sendiri. Jika ia sedang malas atau merasa lemah, maka hendaklah ia duduk.” Apa bedanya shalat dengan berdiri, duduk atau berbaring? Bacalah di Kitab Shahih Bukhari (577): Dari Imran, katanya: “Aku bertanya kepada Nabi saw. perihal orang yang shalat duduk.” Jawab Rasulullah saw, “Orang yang shalat berdiri, itulah yang paling utama. Dan orang yang shalat duduk, maka pahalanya seperdua pahala shalat berdiri. Dan orang shalat tidur, maka pahalanya seperdua pahala orang yang shalat duduk.” Apa Hikmah berdiri dalam shalat? Hasil penelitian ilmiah mengungkapkan bahwa berdiri tegak dalam shalat membuat setiap ruas tulang belakang kembali diletakkan sesuai proporsinya. Posisi berdiri juga bermanfaat bagi pelatihan keseimbangan dan konsentrasi. Berdiri bangun dari ruku dengan mengangkat kedua tangan menyebabkan darah turun langsung dari kepala ke arah bawah, bagian pangkal otak yang mengatur keseimbangan berkurang tekanan darahnya, sehingga menjaga saraf keseimbangan tubuh kita. Tentu ada hikmah lain dari gerakan berdiri shalat yang kita belum tahu manfaatnya, tetapi Allah pasti tahu karena Dia-lah yang memerintahkan shalat. Bukankah Tuhan kita adalah Tuhan Yang Maha Pemberi Manfaat, Ya Allah ya Nafii’? Perintah shalat dari Tuhan kita Yang Maha Suci, Ya Allah ya Qudduus, tak ternoda dari ketiadaan manfaat. Read more...

Kuhadapkan wajahku dengan lurus kepada agama-Mu, ya Allah ya Fattah, Tuhanku Yang Maha Membuka Hati, yakni agama Islam yang mengagungkan-Mu

by Dana Anwari.  Mengapa hanya menyembah Allah SWT?“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” Begitulah penjelasan dari Tuhanku, Ya Allah ya Mutakabbir, Tuhan Pemilik Segala Keagungan, dalam Kitab Al Quran surat Ar Ruum ayat 30.
“Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus,” demikian tegas Tuhanku Yang Selalu Maha Dibutuhkan, Ya Allah ya Shamad, tertera dalam surat Yasin ayat 61 Al Quran.

Manusia diciptakan Allah bukan untuk melakukan kesia-siaan.
Ya Allah ya Qudduus, Allah Sungguh Maha Suci.
Tiada ciptaan-Nya yang sia-sia dan tidak memiliki manfaat.
Manusia diciptakan-Nya dari bumi sekaligus hendak dijadikan-Nya pemakmur bumi.
Pemakmur bumi yang diberkahi keberuntungan-Nya adalah pemakmur bumi yang hanya menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa, yakni Allah yang tanpa sekutu.

Ya Allah ya ‘Afuww, Allah Yang Maha Pemaaf.
Ya Allah ya Tawwaab, Allah Yang Maha Penerima Tobat.
Bila kita salah dan khilaf dalam bekerja memakmurkan bumi, lalu berdoa kepada-Nya sebagai seorang hamba yang hina, memohon ampunan-Nya, maka Ya Allah ya Ghafuur, Tuhanku Yang Maha Mengampuni, insya Allah mengabulkan doa hamba-Nya.
Sesuai janji Allah, dalam Al Quran surat Hud ayat 61: “Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).”
"Tidakkah kamu tahu,” begitu papar Nabiku dalam Kitab Al Quran surat An Nur ayat 41, “bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi, dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”
“Apakah kamu tiada mengetahui,” begitu papar Nabiku dalam Al Quran surat Al Hajj ayat 18, “bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia?
Dan dalam surat  Al Isra ayat 44 Al Quran: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.”

Kini makin kupahami fitrah kemakhlukanku. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yang satu yakni agama tauhid: penyembahan kepada Tuhanku Yang Tunggal tanpa satu pun sekutu, Ya Allah ya Waahid.

Dengan sembahyang hamba-Mu ini, ya Allah ya Mubdi’,
kusembah Yang Maha Memulai, yaitu Engkau.
Kubuktikan penyerahan diriku pada-Mu, Ya Allah ya Mu’iid, wahai Dzat Yang Maha Mengembalikan.

Dengan sembahyang hamba-Mu ini, ya Allah ya Muhyii,
kusembah Yang Maha Menghidupkan, yaitu Engkau.
Kubuktikan ketundukkanku pada-Mu, Ya Allah ya Mumiit, wahai Dzat Yang Maha Mematikan.

Dengan sembahyang hamba-Mu ini, ya Allah ya Awwal,
kusembah Yang Maha Permulaan, yaitu Engkau.
Kubuktikan kepatuhanku pada-Mu, Ya Allah ya Aakhir, wahai Dzat Yang Maha Akhir.
Read more...

Bagaimana gerakan sujud yang diajarkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wassalam?

By Dana Anwari. Bagaimana cara sujud Nabi Muhammad saw? Aku harus tahu karena hanya beliau lah yang layak kutiru cara bersujudnya menyembah Allah swt. Simaklah penuturan sahabat yang rajin mencatat perilaku Nabi Muhammad saw, Abu Hurairah, dalam Kitab Shahih Sunan Abu Daud (840): Rasulullah saw. bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bersujud, maka janganlah berderum, sebagaimana unta berderum, tetapi hendaklah meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya.”
Ternyata Nabiku, Nabi Muhammad saw. pun sujud dengan kening merapat ke bumi dan hidung mencium bumi. Kedua telapak tangan menempel pada bumi. Kedua lengannya tidak ikut menempel pada bumi, tetapi kedua sikunya ditinggikan dan direnggangkan dari rusuk. Kedua lutut menempel ke bumi. Kedua ujung telapak kaki melekat ke bumi dengan jemari kaki ditekuk menghadap kiblat. Sehingga, posisinya menungging.
Bacalah hadis riwayat Abdullah bin Abbas dalam Kitab Shahih Muslim (444): Rasulullah saw. bersabda, “Aku diperintahkan sujud dengan tujuh anggota tubuh dan tidak dibolehkan melapisinya dengan rambut atau dengan pakaian, yaitu: (1) Kening dan hidung, (2) dua tangan, (3) dua lutut, dan (4) dua ujung kaki.”
Tentang apa yang tidak boleh tertutup rambut dan pakaian, simaklah riwayat Bukhari dan Muslim (254): Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata: Nabi saw. diperintahkan untuk sujud dengan tujuh anggota badan dan dilarang menutup dahinya dengan rambut dan pakaian.

Kecuali pada saat hari panas, dibolehkan menggelar pakaiannya. Simaklah periwayatan Bukhari dan Muslim (330): “Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Kami pernah salat bersama Rasulullah saw. di hari yang sangat panas. Jika salah seorang kami tidak tahan meletakkan dahinya pada tanah, maka ia menggelar pakaiannya dan sujud di atasnya.”
Bukti bahwa di saat sujud bagian muka ditumpukan kepada dahi dan hidung dapat disimak dari Kitab Shahih Sunan Abu Daud (894): Dari Abu Said Al Khudri r.a., bahwasanya Rasulullah saw. terlihat pada dahi dan ujung hidung beliau ada bekas tanah, setelah mengerjakan shalat bersama orang banyak (berjamaah).
Tentang posisi kedua siku yang merenggang dari rusuk, bacalah hadis riwayat Maimunah, istri Nabiku, dalam Kitab Shahih Muslim (448): “Apabila Rasulullah saw. sujud, direnggangkannya kedua sikunya dari rusuk, sehingga kelihatan putih ketiaknya. Dan apabila beliau duduk antara dua sujud dan pada tasyahud awal, beliau duduk tenang di atas pahanya yang kiri.”
Dalam Kitab Shahih Bukhari juga diriwayatkan (442): Berita dari Abdullah bin Malik bin Buhainah, bahwa apabila Nabi saw. sujud, direnggangkannya kedua lengannya (dari rusuknya) sehingga kelihatan putih ketiaknya.
Ingatlah, jangan menempelkan kedua siku ke bumi. Sebagaimana hadis yang disampaikan Anas dan diriwayatkan Bukhari dan Muslim (255): Rasulullah saw. bersabda: “Luruslah kalian dalam sujud dan janganlah seorang kalian melunjurkan kedua lengannya seperti anjing melunjurkan kaki depannya.”
Dengan lutut dan ujung telapak kaki yang menempel ke bumi, maka posisinya menungging, sebagaimana digambarkan dalam Kitab Shahih Sunan Abu Daud (899): Dari Ibnu Abbas r.a., dia berkata, “Aku pernah datang kepada Nabi saw. dari belakang beliau, lalu aku melihat putih kedua ketiak beliau, dan ketika beliau menungging (mengangkat perut dan membuka lengan waktu sujud), beliau telah merenggangkan antara kedua tangannya.”
Tentang ujung jari-jari kaki menghadap ke kiblat, simaklah hadis dalam Kitab Shahih Bukhari (452): Diceritakan oleh Muhammad bin Amr bin Atha, bahwasanya ia pernah duduk bersama beberapa orang sahabat Nabi saw. membicarakan perihal shalat Nabi saw.
Abu Humaid Saidi mengatakan, “Saya yang paling ingat di antara kamu tentang shalat Rasulullah saw. Ketika takbir, kulihat beliau mengangkat kedua belah tangan sampai setentang dengan bidang kedua bahunya.
Ketika ruku, diletakkannya kedua tapak tangannya di atas lututnya, dan diratakannya punggungnya.
Apabila beliau telah mengangkat kepala (bangkit) dari ruku, beliau berdiri tegak lurus, sehingga tulang punggung beliau kembali tegak lurus seperti biasa.
Ketika sujud, diletakkannya kedua tapak tangannya (ke bumi), tetapi lengannya tidak diletakkan, dan tidak pula dirapatkannya ke rusuk, dan ujung jari kakinya dihadapkannya ke kiblat.
Apabila beliau duduk sesudah dua rakaat, beliau duduk di atas kakinya yang kiri dan menegakkan telapak kakinya yang kanan.
Duduk pada rakaat yang akhir, beliau mengulurkan tapak kakinya yang kiri ke sebelah kanan dan ditegakkannya tapak kakinya yang (kanan) dan beliau duduk di pinggulnya.”

Masih maukah meniru teladan kita, Nabi Muhammad saw.? Seorang sahabat beliau yang dikenal zuhud terhadap dunia, Hudzaifah, merasa kecewa terhadap orang Islam yang tidak mencontoh keteladanan Nabinya, dalam Kitab Shahih Bukhari (443): Dia melihat seorang laki-laki yang tidak sempurna ruku dan sujudnya. Setelah orang itu selesai shalat, Hudzaifah berkata kepadanya, “Engkau tidak shalat. Kalau engkau mati, maka engkau mati bukan di dalam agama Muhammad saw.” (shalatdoasempurna)
Read more...

Bisakah terhindar dari perbuatan keji dan mungkar dengan shalat?

by Dana Anwari Bisakah aku bersih dari perbuatan keji dan mungkar? Dengan shalatku, sudah bersihkah diriku? Sudah sucikah aku? Mampukah kuhindari perbuatan keji dan mungkar? Bukankah Tuhanku, Ya Allah ya Syahiid, Allah Yang Maha Menyaksikan, berjanji dalam surat Al Ankabut ayat 45 Al Quran: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.”
Bila aku sudah mengerjakan shalat, tapi aku masih saja melakukan perbuatan keji dan mungkar, sudah benarkah shalatku?
Jangan-jangan aku shalat tetapi sebenarnya tidak shalat. Aku shalat sekadar ingin meraih pamrih orang-orang: agar diakui dalam status sosial sebagai orang yang alim dan orang yang taqwa. Tapi sesungguhnya, di luar ibadah shalat, aku masih saja mengerjakan yang keji dan mungkar, yang menunjukkan aku termasuk sebagai orang-orang yang tidak alim dan tidak bertaqwa.
Bisakah kuhindari perbuatan keji dan mungkar?

Padahal aku ini manusia biasa yang terus berusaha mencegah diri dari perbuatan salah dan meminimalkan dosa tapi sulit mencegah khilaf yang kadang merasuki jiwa, mengotorkan hati, mengeruhkan pikiran, dan membuat aib tingkah laku.
Ternyata Tuhanku, Ya Allah ya Hakiim, sungguh Tuhan Yang Maha Bijaksana, Dia memahami kegundahanku itu. Dan kurasakan kebijaksanaan-Nya itu kala kupahami surat An Nur ayat 21 Al Quran: “Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (shalatdoasempurna.blogspot.com)
Read more...

Shalat di hadapan Kabah

Mengapa masih ada yang shalat tidak menghadap ke Baitullah?

Siapa yang mau jadi pembelot ajaran Islam Rasulullah saw? Dalam Kitab Al Quran surat Al Baqarah ayat 142, Allah swt. berfirman : “Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: ‘Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitulmakdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?’ Katakanlah (Hai Muhammad): ‘Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus’.”
Dengan satu kiblat, Tuhanku, Ya Allah ya Qabid, Tuhan Yang Maha Pengendali mau menunjukkan jatidiri hamba-Nya yang Islam. Seperti tertuang dalam surat Al Baqarah ayat 143: “Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.

Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot.
Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.“

Read more...

Janji Allah atas shalat fardhu hamba-Nya

Bila kulalaikan shalatku, sesungguhnya aku telah menciptakan kesulitan bagi diriku sendiri. Bila kukerjakan shalatku, sesungguhnya aku telah menciptakan ketenangan dalam hidupku dengan takwaku. Kusempurnakan setiap rakaat shalatku, dan aku tenang dalam mendirikan shalatku. Kuingat selalu sabda Nabiku dalam Kitab Sunan Ad-Darimi (1577) : “Nabi Muhammad saw bersabda: “Ada lima shalat yang diwajibkan Allah swt. kepada kalian. Siapa pun yang melaksanakannya dengan baik --tanpa mengurangi haknya-- maka ia terikat dengan janji Allah swt yang akan memasukkannya ke dalam surga.

Dan, siapa pun yang tidak melaksanakannya dengan baik, maka ia tidak terikat dengan perjanjian. Jika Allah swt. menghendaki, maka Dia akan mengazabnya, dan jika Allah swt. menghendaki, maka Dia akan memasukkannya ke dalam surga.”

Simaklah firman-Nya yang menekankan janji-Nya dalam surat Luqman ayat 33 Al Quran: Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah. (shalatdoasempurna)

Read more...

Perlihatkan takwa kita kepada Allah, bukan kepada yang lainnya

By Dana Anwari. Dengan shalat, aku sedang berusaha menjadi orang bertaqwa. Taqwaku adalah kepatuhanku kepada Ya Allah ya Qahhaar, Dzat Yang Maha Menundukkan. Taqwaku adalah ketaatanku kepada Ya Allah ya Raqiib, Dzat Yang Maha Mengawasi. Taqwaku adalah mematuhi perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.
“Dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa,” begitu kata Tuhanku dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 41.
“Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” begitu firman Tuhanku Yang Maha Mengawasi, Ya Allah ya Raqiib di surat Al Baqarah ayat 233.
Maka, aku bersungguh-sungguh mendirikan shalat hanya karena Allah. Karena Allah selalu melihat shalatku: sudah benarkah shalatku seperti yang diajarkan rasul-Nya, Muhammad saw? Bahkan Allah swt. mengetahui niatku mendirikan shalat: untuk riya ataukah untuk menggapai rida-Nya?

Aku percaya dan yakin dengan petunjuk shalat Nabi Muhammad saw yang bersumber dari petunjuk Tuhannya, Allah swt, Tuhan kita semua. Maka kutiru keteladanan Nabiku, Nabi Muhammad saw. Dan akupun mencintai Nabiku, Nabi Muhammad saw, karena mengajariku untuk meraih kesuksesan dengan keberuntungan Tuhan-nya, Tuhan ku juga, dan Tuhan kita semua.
“Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam, dan agar mendirikan sembahyang serta bertakwa kepada-Nya. Dan Dialah Tuhan Yang kepada-Nya-lah kamu akan dihimpunkan.” Begitu Al Quran mengajariku, tertera dalam surat Al Anam ayat 71-72.

Kumanfaatkan shalatku untuk menunjukkan siapa sesungguhnya diriku di hadapan Engkau, Ya Allah ya Waaliy, Tuhan Yang Maha Memerintah.
Engkaulah Yang Maha Menjaga.Ya Allah ya Hafiidh, jagalah langkahku agar tidak keluar dari jalan-Mu yang terang dan lurus.
Dan Engkau Yang Maha Pemelihara, Ya Allah ya Muhaymin, kuharapkan agar Engkau senantiasa menyertai langkah hidupku. Sebagaimana janji-Mu dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 194: “Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam,” tegas Tuhanku Yang Maha Mengumpulkan manusia di akhirat, Ya Allah ya Jaami’, dalam firman-Nya di surat Ali Imran ayat 102 Al Quran. (shalatdoasempurna.blogspot.com)


Read more...

A tired muslim devotee yawns during prayers on the last day of Ramadan in a mosque south of Nairobi



www.biyokulule.com

Read more...

Mengapa Shalat Tarawih 11 rakaat dan 23 rakaat?

By Dana Anwari. Kala berpuasa di bulan Ramadhan, seorang muslim pasti berkehendak pula mampu mendirikan Shalat Tarawih. Tapi, tahukah Anda, mengapa Shalat Tarawih didirikan sebelas rakaat ?
Nabiku, Nabi kita, Nabi Muhammad saw, Shalat Tarawih sebanyak sebelas rakaat, sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah, istri Nabiku yang merupakan anak dari sahabatnya, Abu Bakar.
“Bagaimanakah shalat Rasulullah saw. di bulan Ramadhan?” begitu tanya Abu Salamah bin Abdurrahman kepada istri Nabi Muhammad sa., Aisyah ra. dalam Kitab Sunan Abu Daud bab Tentang Shalat Malam (1341), “Jawab Aisyah: ‘Shalat Rasulullah saw. tidak pernah lebih dari sebelas rakaat, baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya, yaitu beliau mengerjakan shalat empat rakaat. Jangan lagi ditanya bagaimana bagus dan panjangnya. Kemudian shalat empat rakaat lagi. Jangan ditanya bagaimana bagus dan panjangnya. Sesudah itu beliau mengerjakan shalat tiga rakaat’.”

Setiap bulan Ramadhan, bulan di saat umat Islam menunaikan ibadah puasa, ada aktivitas shalat sesudah Shalat Isya yang namanya Shalat Tarawih. Memang ada yang mengerjakan jumlah rakaatnya 11 rakaat. Tetapi, ada pula yang 23 rakaat.
Mengapa shalat Tarawih didirikan 23 rakaat ?
Shalat Tarawih yang 23 rakaat dijelaskan dalam Kitab Al Muwaththa Imam Malik bab Shalat Malam pada Bulan Ramadhan (246): Ia menceritakan kepadaku, dari Malik, dari Yazid bin Ruman, bahwa ia berkata, “Orang-orang pada masa khalifah Umar bin Kaththab di bulan Ramadhan shalat sebanyak dua puluh tiga rakaat.”
Bila pembaca ada yang mengetahui dalil lainnya, silakan saling bersedekah ilmu dengan sesama moslem. Kirimkanlah kutipan beserta sumbernya yang jelas ke danaribrothers@gmail.com. Semoga Allah membalas sedekah ilmu saudara, amin
shalatdoasempurna.blogspot.com
Read more...

Masihkah tidak percaya Isra Miraj Rasulullah saw?

By Dana Anwari. Benarkah Rasulullah saw meminta keringanan shalat bagi umatnya kepada Allah? Benarkah Nabi Musa as menyatakan bahwa dulu umatnya tidak sanggup melaksanakan shalat yang diperintahkan Allah? Atau, mungkinkah di antara kita masih ada yang meragukan Isra Miraj Nabi Muhammad saw?
Apa yang tidak mungkin bagi Allah? Lalu mengapa masih ragu dengan Isra Miraj Nabi kita, Nabi Muhammad saw?
Mari kita simak lagi kisahnya dalam Kitab Shahih Muslim, diriwayatkan pula (134): Dari Anas bin Malik, katanya Rasulullah saw. bersabda: “Jibril membawakan kepadaku seekor Buraq, yaitu sejenis hewan berwarna putih, lebih panjang dari keledai dan lebih pendek daripada baghal. Ia dapat melompat sejauh mata memandang. Hewan itu lalu kutunggangi sampai ke Baitul Makdis. Sampai di sana hewan itu kutambatkan di tambatan yang biasa digunakan para Nabi. Kemudian aku masuk ke dalam masjid dan shalat di situ dua rakaat.
Setelah aku keluar, Jibril datang membawa dua bejana, yang satu berisi khamar dan yang satu lagi berisi susu. Aku memilih susu. Kata Jibril: ‘Anda memilih yang benar.’
Kemudian kami dibawa ke langit.


Lalu Jibril minta supaya dibukakan pintu. Jibril ditanya: ‘Anda siapa?’ Sahut Jibril: ‘Aku Jibril.’ Tanya: ‘Siapa bersama anda?’ Jawab: ‘Muhammad!’ Tanya: ‘Sudah diutuskah dia?’ Jawab: ‘Ya, benar! Dia sudah diutus!’ Setelah itu barulah pintu dibukakan untuk kami. Tanpa diduga aku berjumpa dengan Adam. Beliau mengucapkan selamat datang kepadaku serta mendoakanku semoga memperoleh kebaikan.
Kemudian kami naik ke langit kedua. Jibril minta dibukakan pula pintu. Lalu dia ditanya: ‘Siapa anda?’ Jibril menjawab: ‘Aku Jibril!’ Tanya: ‘Siapa bersama anda?’ Jawab: ‘Muhammad!’ Tanya: ‘Apakah dia sudah diutus?’ Jawab: ‘Ya, dia sudah diutus!’ Setelah itu barulah pintu dibukakan untuk kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan dua orang, anak dan paman, yaitu Isa anak Maryam dan Yahya bin Zakaria alaihimas salam. Keduanya mengucapkan selamat datang kepadaku, serta mendoakan semoga aku memperoleh kebaikan.
Kemudian aku dibawa lagi naik ke langit ketiga. Jibril minta dibukakan pula pintu. Dia ditanya: ‘Siapa anda?’ Jawab: ‘Aku Jibril!’ Tanya: ‘Siapa bersama anda?’ Jawab: ‘Muhammad saw.!’ Tanya: ‘Apakah dia sudah diutus?’ Jawab: ‘Ya, dia sudah diutus.’Lalu pintu dibukakan bagi kami. Di situ aku bertemu dengan Yusuf as. yang kecantikannya seperdua dari seluruh kecantikan yang ada. Dia mengucapkan selamat datang kepadaku, dan mendoakan semoga aku memperoleh kebaikan.
Sesudah itu kami dibawa naik ke langit keempat. Jibril minta supaya dibukakan pula. Dia ditanya: ‘Siapa anda?’ Jawab: ‘Aku Jibril.’ Tanya: ‘Siapa bersama anda?’ Jawab: ‘Muhammad!’ Tanya: ‘Apakah dia sudah diutus?’ Jawab: ‘Ya, dia sudah diutus.’ Setelah itu, barulah pintu dibuka untuk kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Idris as. Dia mengucapkan selamat datang kepadaku, serta mendoakan semoga aku beroleh kebaikan.
Kemudian kami naik ke langit kelima. Jibril as. minta dibukakan pintu. Dia ditanya: ‘Siapa anda?’ Jawab: ‘Aku Jibril.’ Tanya: ‘Siapa bersama anda?’ Jawab: ‘Muhammad saw.’ Tanya: ‘Apakah dia sudah diutus?’ Jawab: ‘Ya, dia sudah diutus.’ Setelah itu pintu dibukakan untuk kami. Di situ aku bertemu dengan Harun as. Dia mengucapkan selamat datang kepadaku, dan mendoakan semoga aku mendapat kebaikan.
Kemudian kami naik ke langit keenam. Lalu Jibril minta dibukakan pintu. Dia ditanya: ‘Siapakah anda?’ Jawab: ‘Aku Jibril.’ Tanya: ‘Siapa bersama anda?’ Jawab: ‘Muhammad.’ Tanya: ‘Apakah dia sudah diutus?’ Jawab: ‘Ya, dia sudah diutus.’ Sesudah itu barulah pintu dibukakan untuk kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Musa as. Dia mengucapkan selamat datang kepadaku, dan mendoakan semoga aku mendapat kebaikan.
Kemudian kami naik ke langit ketujuh. Jibril minta dibukakan pula pintu. Dia ditanya: ‘Siapa anda?’ Jawab: ‘Aku Jibril.’ Tanya: ‘Siapa bersama anda?’ Jawab: ‘Muhammad saw.’ Tanya: ‘Apakah dia sudah diutus?’ Jawab: ‘Ya, dia sudah diutus.’ Sesudah itu, lalu pintu dibuka untuk kami. Di situ tiba-tiba aku bertemu dengan Ibrahim as. sedang bersandar di Baitul Makmur, di mana 70.000 malaikat masuk ke dalamnya dan mereka tidak pernah kembali lagi dari situ.
Kemudian Jibril membawaku ke Sidratul Muntaha, kutemukan sebatang pohon yang daunnya seperti telinga gajah, dan buahnya sebesar kendi. Setiap kali ia tertutup dengan kehendak Allah, ia berubah sehingga tidak satu pun makhluk Allah yang sanggup mengungkapkan keindahannya.
Lalu Allah menurunkan wahyu kepadaku, mewajibkan shalat 50 kali sehari semalam. Sesudah itu aku turun ke tempat Musa as. Musa bertanya: ‘Apa yang telah diwajibkan Tuhanmu kepada umatmu?’ Jawabku: ‘Shalat 50 kali.’
Kata Musa: ‘Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan, karena umatmu tidak akan sanggup melakukannya. Aku sendiri telah mencoba terhadap Bani Israil.’
Kata Nabi saw: ‘Aku kembali kepada Tuhanku lalu aku memohon, “Ya, Tuhan! Berilah umatku keringanan!” Maka Allah menguranginya menjadi lima.’
Sesudah itu aku kembali kepada Musa. Kataku: ‘Allah menguranginya lima.’ Kata Musa: ‘Umatmu tidak akan sanggup menunaikannya sebanyak itu. Karena itu kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan.’
Kata Nabi saw. selanjutnya: ‘Aku jadi berulang-ulang pulang pergi antara Tuhanku dengan Musa, sehingga akhirnya Allah berfirman: “Kesimpulannya ialah shalat lima kali sehari semalam. Setiap satu kali shalat, sama nilainya dengan sepuluh shalat, maka jumlah nilainya 50 juga. Dan bagi yang bermaksud berbuat kebajikan tetapi tidak dilaksanakannya, dituliskan baginya (pahala) satu kebajikan. Apabila dilaksanakannya, ditulis baginya (pahala) sepuluh kebajikan. Dan bagi yang bermaksud hendak berbuat kejahatan, tetapi tidak jadi dilaksanakannya, tidak akan dituliskan apa-apa baginya. Tetapi jika dilaksanakannya, maka ditulis baginya balasan satu kejahatan.”
Sesudah itu aku turun kembali ke Musa as., lalu kuceritakan apa yang difirmankan Tuhanku itu. Kata Musa: ‘Kembalilah kepada Tuhanmu, dan mintalah keringanan.’ Jawab Rasulullah saw.: ‘Aku telah berulang kali kembali kepada Tuhanku meminta keringanan, sehingga aku malu kepada-Nya’.”

shalatdoasempurna.blogspot.com
Read more...

Islam - Selections from Encyclopaedia Britannica